Kamis, 13 Februari 2014

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagralah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama. 

Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.
Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.
Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.
Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bah-wa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitabkitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebut, dikisahkanl seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat bangkitnya kesadarannya, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.
Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Sivaratri.
Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Sivaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:
”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.
”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan+ seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*
Sumber Sastra itihasa Dalam Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Sivaratri. Rsi Astavakra bertanya:
“Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.
“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.
Purana
Sivaratri juga dimuat dalam purana-purana, yang umumnya berisi kisah-kisah pemburu yang sadar, seperti berikut:
Pertama, Siva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para rsi, menguraikan pentingnya upacara Sivaratri. Seseorang bernama Rurudruha seperti telah disinggung di atas.
Kedua, Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut ”kebenaran” Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.
Ketiga, Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Sivaratri diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Siva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Sivaratri. Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.
Keempat, Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa denganWasista. Wasista menceritakan bahwa Sivaratri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Sivaratri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Siva loka.
RAJ YAMUNA
Di Perguruan Raj Yamuna perayaan Siweratri di mulai dari Pagi hari sampai besok paginya. Kegiatan ini melibatkan siswa-siswi dari TK, SD dan SMP serta Bapak dan Ibu Guru. Adapun kegiatan di bagi dalam dua tahap. Tahap pertama dari jam 08.00 - 12.00 diikuti oleh anak-anak TK dan Kelas I-IV, sedang tahap kedua dari Jam 14.00 - 07.00 pagi diikuti oleh anak-anak dari kelas V-IX. 
Adapun kegiatan meliputi Pembersihan diri (Melukat) yang di lukat oleh Ida Pandita Shri Begawan Penyarikan Cista Dharma Jnah Dwija Loka dari Griya Sidhakarya yang sekaligus memberikan darmawecana. Selain kegiatan tersebut juga diadakan kegiatan membuat karawista, membuat nasi yasa dan Lomba Gaya Tri Mantram, persembahyangan bersama kemudian paginya di lanjutkan dengan kegiatan Yoga di Pantai Mertasari.
Sumber :I Ketut Budaraga dan redaksi Raj Yamuna

DOKUMENTASI KEGIATAN SIWERATRI



 
Acara melepas matahari 2013di  Kota Denpasar berlangsung di areal Patung Catur Muka, dengan dimeriahkan berbagai atraksi kesenian modern dan tradisional. Acara melepas matahari yang dirangkai penutupan even Denpasar Festival ke-VI, dihadiri Walikota Denpasar, IB Rai Dharawijaya Mantra; Wakil Walikota, IGN Jaya Negara; Sekda Kota, AA Ngurah Rai Iswara; Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya; Kapolresta, Dandim 1611/Badung, tokoh-tokoh masyarakat dan kepala SKPD.
Ketua panitia, AA Oka Suwetja, di hadapan undangan melaporkan, kegiatan melepas matahari 2013 merupakan satu rangkaian dengan kegiatan Denpasar Festival ke-6 yang digelar mulai 28 s.d. 31 Desember 2013. Kegiatan melepas matahari 2013 didukung ratusan seniman dari berbagai sekolah dan kantong-kantong seni yang ada di Kota Denpasar. Dengan kegiatan ini, diharapkan mampu mempererat dan mempertebal rasa persatuan dan persaudaraan antarsuku, ras dan etnis yang ada di Kota Denpasar, serta dengan rasa optimis dalam menyongsong datangnya Tahun Baru 2014.
Dengan mengambil tema “Denpasar Rumahku Kotaku, Creative In Motion” kegiatan ini dimulai sejak pagi hari dengan parade sanggar tari se-Kota Denpasar diikuti sekitar 4.000 penari. Dilanjutkan dengan atraksi marching band,  lomba melukis, festival permainan tradisional anak dan tetabuhan gambang klenengan oleh seka gambang Manika Shanti.
Acara melepas matahari 2013 didahului doa bersama lintas agama dipimpin Ketua FKAUB Denpasar, IB Wiana, dilanjutkan dengan parade atraksi kesenian dari beberapa sekolah yang ada di Kota Denpasar, seperti SD Cipta Darma, SD Raj Yamuna, Sekolah Dwijendra dll. Selanjutnya menjelang pergantian tahun,  ditutup dengan peniupan terompet tepat pukul nol-nol menandai datangnya tahun baru 2014. Di mana acara ini diliput live  stasiun televisi nasional. Menyongsong datangnya tahun baru 2014, Walikota Denpasar, IB Rai Dharamawijaya Mantra, mengajak segenap warga kota menyambut tahun baru dengan penuh rasa optimisme. ‘’Denpasar sebagai kota warisan budaya, tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai budaya yang multi etnik harus tetap terjaga dalam bingkai NKRI,’’ ujarnya.
Walikota juga tak lupa mengucapkan terimakasih, atas segala dukungan yang diberikan, sehingga pembangunan di Kota Denpasar dapat berjalan sesuai rencana. Selain itu, Rai Mantra juga mengucapkan terimakasih dan dukungan semua pihak karena Denpasar Festival ke-6 dan menyambut Tahun Baru 2014 berjalan aman, kondusif dan lancar.  (Sumber : Raj Yamuna dan Denpost)

FOTO KEGIATAN PENTAS BUDAYA RYS

Selasa, 17 Desember 2013

MAHA BANDANA PRASADA PUPUTAN BADUNG

Posted by SD RYS On 21.16

Senin, 25 November 2013

Makna Peringatan Hari Guru Indonesia

Posted by SD RYS On 05.34
Hari Guru yang diperingati setiap tahun pada tanggal 25 Nopember, tidak cukup sekedar memperingatinya secara seremonial, tetapi lebih dari itu, harus dijadikan momentum untuk refleksi dan reintrospeksi atas peran menjadi seorang guru.
Pilihan untuk menjadi guru tentu saja bukan tanpa alasan. Guru adalah profesi yang telah ada semenjak peradaban manusia itu ada. Bahkan guru menjadi salah satu penjamin keberlangsungan peradaban. Jika pilihan untuk menjadi guru itu tetap dijalani hingga kini, tentu saja karena atas dasar idealisme dan kecintaan.



Letakkan tulisan sobat blogger disini...!!!

Meski akhirnya harus diakui, bahwa masih ada dilemma antara idealisme/kecintaan dengan kesejahteraan, Ironi yang cukup lama bertahan mengenai sosok kehidupan seorang guru, dimana mereka harus menjalani hidup pas-pasan dan terkadang harus terseok-seok untuk bisa bertahan hidup, diri dan keluarganya. Namun, ironi tersebut kini perlahan-lahan mulai pupus ketika pemerintah memberi perhatian melalui alokasi anggaran negara untuk sektor pendidikan, sebagai upaya memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945, yaitu dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sekarang ini, problematika guru pada tataran perjuangan meningkatkan kesejahteraan, mulai teratasi. Menjadi guru bukan lagi pilihan yang dilematis melainkan sebuah pilihan yang prestisius. Antara idealisme, kecintaan dan kesejahteraan kini bisa berjalan berdampingan. Guru kini dapat berjalan dengan tubuh tegak dan penuh kebanggaan. Bahkan melalui program sertifikasi, profesi profesi guru kemudian jadi pilihan dan incaran. Perguruan tinggi yang menyediakan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP), kini mulai diserbu ribuan pendaftar. Bahkan sarjana-sarjana dari jalur non kependidikan , kini mendaftar pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tujuannya utamanya : Menjadi Guru. Apakah karena pertimbangan idealisme, ataupun semata-mata peningkatan kesejahteraan yang menjanjikan ? Entahlah.
Semenjak penetapan guru sebagai profesi pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 2004 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah dan masyarakat memosisikan profesi guru sangat terhormat, baik secara formal maupun sosial, Penetapan ini diharapkan menjadi tonggak awal bangkitnya apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru, yang ditandai dengan dilakukannya reformasi profesi guru, meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi, program sertifikasi, pemberian penghargaan, perbaikan kesejahteraan dan perlindungan hukum.
Adanya peningkatan kesejahteraan bagi guru, tidak luput memunculkan kekhawatiran bergesernya orientasi ketika memilih profesi guru. Berlomba-lombanya orang untuk meraih profesi guru, semata-mata hanya karena janji pemerintah untuk memberikan penghargaan materi yang tinggi, dikhawatirkan melahirkan tenaga pendidik yang mengajar tanpa filosofi, idealisme dan kecintaan yang transenden (suci).
Oleh karena itu, merefleksikan 68 Tahun Hari Guru Indonesia, tidak lagi sekedar berbicara soal kesejahteraan guru, karena harapan untuk hidup layak dan terhormat, sudah didukung oleh perangkat kebijakan pemerintah. Pertanyaan yang penting dan mendasar sebagai bahan refleksi kita adalah “ Bagaimana menjadi guru sejati”. Guru yang benar-benar menjadi ’guru’, bukan lagi sekedar digugu dan ditiru (ditaati dan dicontoh), apalagi bukan sekedar “digugulung di juru” (dikerumuni para siswanya).
Meski masih tetap berhadapan dengan berbagai kebijakan dan isu politik pendidikan yang masih berorientasi pada kepentingan kekuasaan. Meski harus berhadapan dengan kenyataan bahwa guru “dipaksa” untuk menjadi robot kurikulum dan berbagai proyek berbiaya mahal yang mengatasnamakan gagasan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Meski harus berhadapan dengan kenyataan bahwa pemerintah masih tetap ingin menyelenggarakan ajang Ujian Nasional (UN) yang konon dianggap pemerintah sebagai alat mengukur kepintaran anak didik. Guru harus tetap cerdas untuk menyiasati kebijakan tersebut tanpa kehilangan identitas dan kesejatiannya.
Guru sejati adalah sumber inspirasi bagi para anak didiknya. Guru sejati adalah ruang yang memberi keleluasan bagi anak didiknya untuk berinteraksi dengan kehidupannya. Guru sejati harus selalu menyediakan waktu untuk bermetamorfosis dari sekadar pengajar menjadi pendidik, pengukir sejarah, yang mengajarkan hikmah kepada para anak didiknya untuk menjadi manusia-manusia utuh dan memberikan keteladanan dalam kehidupannya. Guru sejati senantiasa mengasah diri lahir batin untuk dapat menjadi pribadi yang mampu mengenali setiap potensi para anak didiknya dan berkemampuan membangkitkan potensi tersebut. Guru sejati memiliki cara pandang yang luas buat mengelola dunia anak-anak agar menjadi anak-anak peradaban yang memiliki akar pada nilai-nilai agama dan budaya yang teguh, sekaligus mampu menjangkau peradaban global.
Guru sejati harus mampu membimbing anak didik menemukan konsep dirinya. Konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita (Jalaluddin Rakhmat, 2001 : 99). Konsep diri ini akan sangat menentukan tentang kepribadian kita sebenarnya. Salah satu faktor yang amat menentukan konsep diri seseorang adalah lingkungannya. Maka, guru yang baik, sejatinya mampu menciptakan lingkungan yang baik bagi anak didiknya untuk tumbuh dan berkembang. Senyuman, pujian, penghargaan dan pelukan pelukan kasih sayang seorang guru akan menciptakan konsep diri positif pada anak didiknya. Begitu pula ejekan, cemoohan dan hardikan akan membuat anak didik menilai dirinya secara negatif. Tulisan ini ingin diakhiri dengan kutipan bait-bait puisi yang dikarang oleh Dorothy Law Nolte berikut ini :
Anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Jumat, 15 November 2013

Jumat, 15 Nopember 2013, merupakan hari yang berbahagia bagi Daiki Maharudeika Shirota dan Ni Kadek Dea Monika ketika waktu membosankan menunggu giliran lomba dan waktu menunggu pengumuman hasil lomba komputer, waktu  yang membosankan bagi anak-anak SD Raj Yamuna yang mengikuti Lomba Tahunan yang bertajuk GRISDA COMPUTER COMPETITION YANG KE 8 Tingkat Kota Denpasar yang diselenggarakan oleh OSIS SMP PGRI 2 Denpasar dalam rangka memperingati Hari Guru dan Hari Pahlawan hilang menjadi kebahgian karena 2 dari anak-anak SD Raj Yamuna Mendapat JUARA I Bidang Lomba Microsoft Excel atas Nama DAIKI MAHARUDEIKA SHIROTA Dan NI KADEK DEA MONIKA sebagai Juara II Bidang Lomba Microsoft Power Point 2007.
GRISDA COMPUTER COMPETITION 8 merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan sebagai salah satu Program Unggulan dari OSIS SMP PGRI 2 Denpasar. Lomba ini sudah sampai pada tahun ke 8 yang rutin diselenggarakan setiap tahun.



Rabu, 13 November 2013


Kamis, 14 Nopember 2013, rombongan tim pengemba Bintek dari Provinsi Bali sebanyak 21 orang
 
kerkunjung ke SD Raj Yamuna dalam rangka observasi proses persiapan sampai pelaksanaan Akreditasi yang telah dilaksanakan di SD Raj Yamuna. Pada kesempatan itu ketua rombongan menanyakan apa kiat-kiat dari Kepala Sekolah kepada para guru di dalam sosialisasi dan persipan semua komponen akreditasi yang menyangkut ke 8 komponen, seperti Komponen Standari Isi, Standar Proses, Pengelolaan, Sarana-Prasarana, Standar Biaya, Standar Kelulusan, Standar Pendidik dan Kependidikan dan Standa Penilaian, itu semua di Paparkan langsung oleh Ibu Kepala Sekolah mengenai apa yang telah di laksanakan bersama guru-guru sampai pelaksanaan Akreditasi yang telah mendapat Nilai A.

Minggu, 03 November 2013


Setelah mengadakan evaluasi tengah semeter sebelum sekolah mengadakan libur hari raya galungan dan kuningan SD Raj Yamuna membagikan raport tengah semester kepada siswa yang diwakili oleh orang tua/wali siswa. Pembagian raport ini diadakan pada jumat, 18 oktober 2013 untuk anak Kelas I, II dan Kelas IV sedang Anak Kelas III, V dan VI Hari Sabtu, 19 Oktober 2013 di aula SD Raj Yamuna.
Sebelum pembagian raport diadakan acara workshop tentang Pendidikan Anak Jaman Sekarang dan Model Pendidikan E-Learning yang dibawakan oleh salah satu dari orang tua murid yang mempunyai keahlian tentang itu. Kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh SD Raj Yamuna sebelum pembagian Raport dengan tujuan untuk saling mengisi dan ikut ambil peran di dalam tanggung jawab mendidik bagi anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa, disampin itu juga untuk lebih meningkatkan rasa kekeluargaan dan terjalin komunikasi yang baik antara para guru dan orang tua murid.
 Sebelum pembagian raport dimulai, acara di buka dengan sambutan  komite sekolah juga sebagi direktur LP3 Prsanthi Nilayam A.A.Ayu Arina Saraswati Hardy yang mengajak orang tua agar selalu mendukung semua aktivitas sekolah dalam memajukan dan meningkatkan prestasi sekolah dibidang akademik maupun non akademik.
Arina menyatakan bahwa “sebagai orang tua jangan sungkan dalam memberikan masukan kepada sekolah karena dengan masukan sekolah akan lebih bisa berkembang untuk peningkatan proses belajar mengajar di sekolah, selain itu juga tugas komite mencarikan dana untuk mengembangkan sekolah ini dan itu menjadi tugas kita bersama” ujarnya.
Masukan yang diberikan orang tua sangat mendukung sekolah ke arah yang baik kedepannya untuk itu sekolah memberikan formulir kepada seluruh orang tua murid untuk diisi agar sekolah mengatahui apa keluhan orang tua murid terhadap sekolah.

Kamis, 10 Oktober 2013

TEST ON LINE TENTANG INTERNET

Posted by SD RYS On 18.08
  • Swasti Astu

    Blogroll