Selasa, 17 Desember 2013
Senin, 25 November 2013
Makna Peringatan Hari Guru Indonesia
Posted by SD RYS
On 05.34
Hari Guru yang diperingati setiap tahun pada tanggal
25 Nopember, tidak cukup sekedar memperingatinya secara seremonial,
tetapi lebih dari itu, harus dijadikan momentum untuk refleksi dan
reintrospeksi atas peran menjadi seorang guru.
Pilihan untuk menjadi guru tentu saja bukan tanpa alasan. Guru adalah
profesi yang telah ada semenjak peradaban manusia itu ada. Bahkan guru
menjadi salah satu penjamin keberlangsungan peradaban. Jika pilihan
untuk menjadi guru itu tetap dijalani hingga kini, tentu saja karena
atas dasar idealisme dan kecintaan.
Letakkan tulisan sobat blogger disini...!!!
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Meski akhirnya harus diakui, bahwa masih ada dilemma antara
idealisme/kecintaan dengan kesejahteraan, Ironi yang cukup lama
bertahan mengenai sosok kehidupan seorang guru, dimana mereka harus
menjalani hidup pas-pasan dan terkadang harus terseok-seok untuk bisa
bertahan hidup, diri dan keluarganya. Namun, ironi tersebut kini
perlahan-lahan mulai pupus ketika pemerintah memberi perhatian melalui
alokasi anggaran negara untuk sektor pendidikan, sebagai upaya memenuhi
amanat Undang-Undang Dasar 1945, yaitu dengan mengalokasikan anggaran
pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN).
Sekarang ini, problematika guru pada tataran perjuangan meningkatkan
kesejahteraan, mulai teratasi. Menjadi guru bukan lagi pilihan yang
dilematis melainkan sebuah pilihan yang prestisius. Antara idealisme,
kecintaan dan kesejahteraan kini bisa berjalan berdampingan. Guru kini
dapat berjalan dengan tubuh tegak dan penuh kebanggaan. Bahkan melalui
program sertifikasi, profesi profesi guru kemudian jadi pilihan dan
incaran. Perguruan tinggi yang menyediakan fakultas keguruan dan ilmu
pendidikan (FKIP), kini mulai diserbu ribuan pendaftar. Bahkan
sarjana-sarjana dari jalur non kependidikan , kini mendaftar pada
perguruan tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Tujuannya utamanya : Menjadi Guru. Apakah karena pertimbangan idealisme,
ataupun semata-mata peningkatan kesejahteraan yang menjanjikan ?
Entahlah.
Semenjak penetapan guru sebagai profesi pada peringatan Hari Guru
Nasional tahun 2004 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono,
pemerintah dan masyarakat memosisikan profesi guru sangat terhormat,
baik secara formal maupun sosial, Penetapan ini diharapkan menjadi
tonggak awal bangkitnya apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap
profesi guru, yang ditandai dengan dilakukannya reformasi profesi guru,
meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi, program sertifikasi,
pemberian penghargaan, perbaikan kesejahteraan dan perlindungan hukum.
Adanya peningkatan kesejahteraan bagi guru, tidak luput memunculkan
kekhawatiran bergesernya orientasi ketika memilih profesi guru.
Berlomba-lombanya orang untuk meraih profesi guru, semata-mata hanya
karena janji pemerintah untuk memberikan penghargaan materi yang tinggi,
dikhawatirkan melahirkan tenaga pendidik yang mengajar tanpa filosofi,
idealisme dan kecintaan yang transenden (suci).
Oleh karena itu, merefleksikan 68 Tahun Hari Guru Indonesia, tidak lagi sekedar berbicara soal kesejahteraan guru, karena harapan untuk hidup layak dan terhormat, sudah didukung oleh perangkat kebijakan pemerintah. Pertanyaan yang penting dan mendasar sebagai bahan refleksi kita adalah “ Bagaimana menjadi guru sejati”. Guru yang benar-benar menjadi ’guru’, bukan lagi sekedar digugu dan ditiru (ditaati dan dicontoh), apalagi bukan sekedar “digugulung di juru” (dikerumuni para siswanya).
Oleh karena itu, merefleksikan 68 Tahun Hari Guru Indonesia, tidak lagi sekedar berbicara soal kesejahteraan guru, karena harapan untuk hidup layak dan terhormat, sudah didukung oleh perangkat kebijakan pemerintah. Pertanyaan yang penting dan mendasar sebagai bahan refleksi kita adalah “ Bagaimana menjadi guru sejati”. Guru yang benar-benar menjadi ’guru’, bukan lagi sekedar digugu dan ditiru (ditaati dan dicontoh), apalagi bukan sekedar “digugulung di juru” (dikerumuni para siswanya).
Meski masih tetap berhadapan dengan berbagai kebijakan dan isu politik
pendidikan yang masih berorientasi pada kepentingan kekuasaan. Meski
harus berhadapan dengan kenyataan bahwa guru “dipaksa” untuk menjadi
robot kurikulum dan berbagai proyek berbiaya mahal yang mengatasnamakan
gagasan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Meski harus berhadapan
dengan kenyataan bahwa pemerintah masih tetap ingin menyelenggarakan
ajang Ujian Nasional (UN) yang konon dianggap pemerintah sebagai alat
mengukur kepintaran anak didik. Guru harus tetap cerdas untuk menyiasati
kebijakan tersebut tanpa kehilangan identitas dan kesejatiannya.
Guru sejati adalah sumber inspirasi bagi para anak didiknya. Guru
sejati adalah ruang yang memberi keleluasan bagi anak didiknya untuk
berinteraksi dengan kehidupannya. Guru sejati harus selalu menyediakan
waktu untuk bermetamorfosis dari sekadar pengajar menjadi pendidik,
pengukir sejarah, yang mengajarkan hikmah kepada para anak didiknya
untuk menjadi manusia-manusia utuh dan memberikan keteladanan dalam
kehidupannya. Guru sejati senantiasa mengasah diri lahir batin untuk
dapat menjadi pribadi yang mampu mengenali setiap potensi para anak
didiknya dan berkemampuan membangkitkan potensi tersebut. Guru sejati
memiliki cara pandang yang luas buat mengelola dunia anak-anak agar
menjadi anak-anak peradaban yang memiliki akar pada nilai-nilai agama
dan budaya yang teguh, sekaligus mampu menjangkau peradaban global.
Guru sejati harus mampu membimbing anak didik menemukan konsep dirinya.
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita (Jalaluddin
Rakhmat, 2001 : 99). Konsep diri ini akan sangat menentukan tentang
kepribadian kita sebenarnya. Salah satu faktor yang amat menentukan
konsep diri seseorang adalah lingkungannya. Maka, guru yang baik,
sejatinya mampu menciptakan lingkungan yang baik bagi anak didiknya
untuk tumbuh dan berkembang. Senyuman, pujian, penghargaan dan pelukan
pelukan kasih sayang seorang guru akan menciptakan konsep diri positif
pada anak didiknya. Begitu pula ejekan, cemoohan dan hardikan akan
membuat anak didik menilai dirinya secara negatif. Tulisan ini ingin
diakhiri dengan kutipan bait-bait puisi yang dikarang oleh Dorothy Law Nolte berikut ini :
Anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jumat, 15 November 2013
GRISDA COMPUTER CHAMPHIONSHIP 8 IMPIANKU TERPENUHI
Posted by SD RYS
On 17.11
Jumat, 15 Nopember 2013, merupakan hari yang berbahagia bagi Daiki Maharudeika Shirota dan Ni Kadek Dea Monika ketika waktu membosankan menunggu giliran lomba dan waktu menunggu pengumuman hasil lomba komputer, waktu yang membosankan bagi anak-anak SD Raj Yamuna yang mengikuti Lomba Tahunan yang bertajuk GRISDA COMPUTER COMPETITION YANG KE 8 Tingkat Kota Denpasar yang diselenggarakan oleh OSIS SMP PGRI 2 Denpasar dalam rangka memperingati Hari Guru dan Hari Pahlawan hilang menjadi kebahgian karena 2 dari anak-anak SD Raj Yamuna Mendapat JUARA I Bidang Lomba Microsoft Excel atas Nama DAIKI MAHARUDEIKA SHIROTA Dan NI KADEK DEA MONIKA sebagai Juara II Bidang Lomba Microsoft Power Point 2007.
GRISDA COMPUTER COMPETITION 8 merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan sebagai salah satu Program Unggulan dari OSIS SMP PGRI 2 Denpasar. Lomba ini sudah sampai pada tahun ke 8 yang rutin diselenggarakan setiap tahun.
Rabu, 13 November 2013
TIM PENGEMBANG BINTEK PROVINSI BALI OBSERVASI KE SD RAJ YAMUNA
Posted by SD RYS
On 21.19
Kamis, 14 Nopember 2013, rombongan tim pengemba Bintek dari Provinsi Bali sebanyak 21 orang
kerkunjung ke SD Raj Yamuna dalam rangka observasi proses persiapan sampai pelaksanaan Akreditasi yang telah dilaksanakan di SD Raj Yamuna. Pada kesempatan itu ketua rombongan menanyakan apa kiat-kiat dari Kepala Sekolah kepada para guru di dalam sosialisasi dan persipan semua komponen akreditasi yang menyangkut ke 8 komponen, seperti Komponen Standari Isi, Standar Proses, Pengelolaan, Sarana-Prasarana, Standar Biaya, Standar Kelulusan, Standar Pendidik dan Kependidikan dan Standa Penilaian, itu semua di Paparkan langsung oleh Ibu Kepala Sekolah mengenai apa yang telah di laksanakan bersama guru-guru sampai pelaksanaan Akreditasi yang telah mendapat Nilai A.
Minggu, 03 November 2013
Pentingnya Pendidikan Anak Sejak Dini, Serangkaian Pembagian Raport Tengah Semester
Posted by SD RYS
On 16.21
Setelah
mengadakan evaluasi tengah semeter sebelum sekolah mengadakan libur hari raya
galungan dan kuningan SD Raj Yamuna membagikan raport tengah semester kepada
siswa yang diwakili oleh orang tua/wali siswa. Pembagian raport ini diadakan
pada jumat, 18 oktober 2013 untuk anak Kelas I, II dan Kelas IV sedang Anak Kelas III, V dan VI Hari Sabtu, 19 Oktober 2013 di aula SD Raj Yamuna.
Sebelum pembagian raport diadakan acara workshop tentang Pendidikan Anak Jaman Sekarang dan Model Pendidikan E-Learning yang dibawakan oleh salah satu dari orang tua murid yang mempunyai keahlian tentang itu. Kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh SD Raj Yamuna sebelum pembagian Raport dengan tujuan untuk saling mengisi dan ikut ambil peran di dalam tanggung jawab mendidik bagi anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa, disampin itu juga untuk lebih meningkatkan rasa kekeluargaan dan terjalin komunikasi yang baik antara para guru dan orang tua murid.
Sebelum pembagian raport dimulai, acara di buka dengan
sambutan komite sekolah juga sebagi direktur LP3 Prsanthi Nilayam A.A.Ayu Arina Saraswati Hardy yang mengajak orang
tua agar selalu mendukung semua aktivitas sekolah dalam memajukan dan
meningkatkan prestasi sekolah dibidang akademik maupun non akademik.
Arina menyatakan bahwa “sebagai orang tua jangan
sungkan dalam memberikan masukan kepada sekolah karena dengan masukan sekolah
akan lebih bisa berkembang untuk peningkatan proses belajar mengajar di sekolah,
selain itu juga tugas komite mencarikan dana untuk mengembangkan sekolah ini
dan itu menjadi tugas kita bersama” ujarnya.
Masukan yang diberikan orang tua sangat mendukung
sekolah ke arah yang baik kedepannya untuk itu sekolah memberikan formulir
kepada seluruh orang tua murid untuk diisi agar sekolah mengatahui apa keluhan
orang tua murid terhadap sekolah.
Kamis, 10 Oktober 2013
Senin, 07 Oktober 2013
MAHA BANDANA PRASADA PUPUTAN BADUNG
Posted by SD RYS
On 22.57
Maha Bandana Prasada mempunyai arti
mewujudkan sesuatu yang agung salah satu kegiatan mengambil nilai nilai luhur
yang terkandung dalam peristiwa Puputan Badung, kegiatannya meliputi demo tari,
pesertanya dari sanggar tari se Kota Denpasar, Pameran buku, Budaya
dan Agama, Pameran buku Puputan Badung, pentas Budaya dan Pawai Pagelaran seni.
Bandana Negara itulah sebutannya, sebuah kerajaan yang sangat megah, dengan penataan bangunan yang sangat apik yang diatur sesuai Asta Kosala Kosali. Terlebih lagi diimbangi dengan taman-taman yang menghiasi disekeliling kerajaan. Keagungan Kerajaan itu terlihat dari hiasan umbul-umbul, tembok, tedung dan berkibarnya panji-panji kerajaan.
Para abdi kerajaan laki-laki dan perempuan sibuk dengan tugas dan kewajibannya masing- masing. Di balai sidang tampak para penggawa, patih demang dan kerabat kerajaan saling berargumentasi dan bertukar pendapat yang dipimpin oleh seorang raja muda yang juga rakawi ( sastrawan ) Cokordo Mantuk Ring Rama sebutan beliau, disamping beliau tampak seorang rohaniawan yang juga rakawi ( Sastrawan ) Isda Pedanda Made Sidemen. Kedua sastrawan ini seakan-akan tidak bisa dipisahkan oleh siapapun kecuali maut yang menjemput. Ibu Suri mendampingi dengan penuh kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, mengingat begitu berat beban yang dipikul oleh seorang anak, yaitu memimpin kerajaan Badung setelah dilimpahkan oleh Cokordo Pemecutan IX, karena beliau sakit. Dari kerajaan di utara pasar beliau memerintah, itulah beliau Cokordo Denpasar.
Pada Kegiatan ini siswa-siswi Perguruan Raj Yamuna mendapat kesempatan untuk mengisi salah satu pagelaran seni.
Dokumentasi Kegiatannya :
Bandana Negara itulah sebutannya, sebuah kerajaan yang sangat megah, dengan penataan bangunan yang sangat apik yang diatur sesuai Asta Kosala Kosali. Terlebih lagi diimbangi dengan taman-taman yang menghiasi disekeliling kerajaan. Keagungan Kerajaan itu terlihat dari hiasan umbul-umbul, tembok, tedung dan berkibarnya panji-panji kerajaan.
Para abdi kerajaan laki-laki dan perempuan sibuk dengan tugas dan kewajibannya masing- masing. Di balai sidang tampak para penggawa, patih demang dan kerabat kerajaan saling berargumentasi dan bertukar pendapat yang dipimpin oleh seorang raja muda yang juga rakawi ( sastrawan ) Cokordo Mantuk Ring Rama sebutan beliau, disamping beliau tampak seorang rohaniawan yang juga rakawi ( Sastrawan ) Isda Pedanda Made Sidemen. Kedua sastrawan ini seakan-akan tidak bisa dipisahkan oleh siapapun kecuali maut yang menjemput. Ibu Suri mendampingi dengan penuh kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, mengingat begitu berat beban yang dipikul oleh seorang anak, yaitu memimpin kerajaan Badung setelah dilimpahkan oleh Cokordo Pemecutan IX, karena beliau sakit. Dari kerajaan di utara pasar beliau memerintah, itulah beliau Cokordo Denpasar.
Pada Kegiatan ini siswa-siswi Perguruan Raj Yamuna mendapat kesempatan untuk mengisi salah satu pagelaran seni.
Dokumentasi Kegiatannya :
Powered by TripAdvisor
Senin, 30 September 2013
ALBUM KENANGAN KELAS VI SD RAJ YAMUNA TAHUN AJARAN 2012/2013
Posted by SD RYS
On 23.25
Sebagai kenang-kenangan siswa-siswi Raj Yamuna khususnya kelas VI maka setiap tahun membuat Album Kenangan, disamping mengenang perjalanan pendidikan bersama selama 6 tahun juga sebagai kenangan yang selalu akan diingat. Untuk lebih jelasnya bisa di buka pada tahutan di bawah ini
Album Kenangan Kelas VI
Langganan:
Postingan (Atom)









